PAWANG BUAYAWATI

Udah lama gw pengen nulis ini. Wel... agak aneh juga gw mulai untuk in relationship, masih ada yang bertanya-tanya? tanyalah, dan jawab sendiri mengapa, mungkin gw lebih butuh jawaban kalian daripada  pertanyaan kalian yang isinya kenapa gw mulai memilih in relationship..
Untuk mencari tumbalkah?
atau kamuflasekah?

Saat gossip yang bukan hanya gossip itu menyebar (gossip gw in relationship), teman2 gw malah bertanya, "sama yang mana?"
Atau "hah, sama yang itu? bukannya lo kemarin dianterin pulang sama A***** ?
Atau, " Hah, eta co kemaren bukan co na?"
malah ada yang mengajak gw gabung ke dalam komunitas buayawati.
Btw... LPP juga komunitas buaya wati loh, walau banyak yang sudah punya pawang..

Pawang? apakah definisi pawang adalah penjinak?
Kalau itu definisinya, mungkin, buayawati yang satu ini gak akan punya pawang dalam ranah cinta-cintaan. (halah basanya mulai nyampah)..
kasian pawangnya diterkam mulu, mana pawangnya canggungan lagi, mangsa empuk nih...
tapi dalam urusan yang lain, bolehlah...

Pawang gw yang satu ini cukup ampuh untuk menurunkan sedikit ego gw, buktinya adalah gw mau nerima dia yang baru dekat beberapa mingu ajah.
Mungkin juga pawang gw juga seorang kadal, jadi berasa enak aja kalau bermain-main dengan sesama makhluk liar.
Hohohoho....

Gw mau cerita dulu tentang kisah si buaya dengan pawangnya...

Pawang buaya yang satu ini mungkin juga bukan yang terbaik diantara yang lainnya, tapi si buaya tertarik dengan kecanggungannya yang alami, dan semua kesederhanaan yang ada dari calon pawang yang baru saja mengajukan lamaran untuk berprofesi sebagai pawang buaya.
Awalnya dia berpikir untuk menjadikan laki-laki itu mangsa empuk.
Namun, ketika si buaya terluka, laki-laki itu berusaha menyembuhkan lukanya, menyuapi makanan ke mulut si buaya yang mungkin saja bisa langsung melahap tangannya.
Si buaya berpikir, jika aku besok sembuh, aku akan makan kenyang, makan anak manusia yang canggung dan malu-malu itu...
dia terus berpikir seperti itu, hingga akhirnya ia sembuh...
saat sembuh, si buaya malah ingin sakit selamanya, sehingga laki-laki itu ada di sampingnya.
karena dia berpikir, jika ia sehat, ia akan melukai laki-laki itu....
Si buaya takut sekali bila melihat laki-laki itu sakit karenanya, tapi dia ingin tetap ada di sampingnya...

Akhirnya, si buaya betina angkuh, sok, dan keas kepala dan jago memanipulasi kondisi ini (entah bagaimana caranya buaya bisa negosiasi dan mengatur situasi), mengatur rencana untuk menjadikan laki-laki itu menjadi pawang buaya.
si buaya tahu, laki-laki itu pasti akan menjadi pawang buaya untuknya, namun, itu hanya soal waktu.
untuk buaya, waktulah yang menjadi soal,
Dekat dengannya tanpa statusnya yang bukan pawangnya, akan menyalakan insting kebuayawatiannya dan memakan laki-laki itu bulat2.
Dan si buaya takut akan hal itu (halah, ini buaya cukup plin-plan apa kepribadian ganda yak ?)

tanpa di duga si buaya, laki-laki itu melamar menjadi pawang buaya di kandangnya yang hanya berisi 1 buayawati, buaya itu sendiri
Buaya itu cukup kaget dan senang, karena menurut perkiraannya, laki-laki itu akan menjadi pawangnnya sekitar 1 atau 2 minggu lagi.
Cerita berakhir sampai dengan hari-hari menyenangkan si buaya dengan pawangnya, yang mungkin saja bisa jadi mangsa empuknya jika dia hilaf....

....its happy ending isn` it?..

yah, itulah fabel gw tentang buayawati dan pawangnya, Kayak cerita klasik Russia "Anak Kuda Bungkuk" yah?
Mungkin saja ini jadi jawaban kenapa gw memilih in relationship, dan semoga dapat menjadi inspirasi buayawati lain...

Ps: buayawati terlahir sebagai buayawati....

Ada pesan juga dari temen gw yang baca tulisan ini sebelum gw post di blog gw :
" NYAMPAH LO DIF, TULISANLO YANG PALING GAK JELAS YANG GW BACA"

                            

PERTEMUAN MAHASISWA YANG ANEH

Saya baru menyadari akhir-akhir ini pelajar Indonesia, khususnya mahasiswa yang aku temuain di pertemuan BEM di Bandung yang sedang membahas isu Pilkada ini punya pikiran dangkal yang mau buru-buru aja. Masih aneh aja kalo ada negara yang punya kualikasi pendidikan untuk menyeleksi calon pemimpinnya. Semua negara maju gak akan pernah lagi membatasi calon pemimpinya dengan batas akademis formal yang sbenarnya bukan melanggar hak asasi saja, tapi juga merugikan bangsa itu juga.

Di pertemuan BEM bandung ini, kita sedang membahas tentang pemimpin ideal yang akan kita ungkapkan ke masyarakat. Beberapa syarat yang telah kita bahas dan sepakati adalah :

1. Pemimpin tersebut tidak pernah dan tidak akan pernah terkena “kasus” (entah gimana caranya mahasiswa jadi peramal, sedangkan jurusan yang tersedia adalah astronomi dan bukan astrologi),

2. Bertakwa terhadap tuhan yang maha esa (well,,, bererti orang atheis gak akan pernah jadi presiden, udah melaggar hak juga gak sih? )

3. (Sumpah, ini yang sebenarnya saya tentang tapi mau gak mau saya sepakatin Cuma gara-gara saya yakin walau argumen saya yang paling logis tapi mereka gak akan sepakat entah kenapa… apakah karena mereka memang belum siap dengan kelogisan macam itu atau karena pembahasan mereka tentang materi memang belum cukup) Calon pikada minimal berijazah S1. (bayangkan, mereka tadinya sepakat bahwa calon pilkada minimal berijazah S2, wah, menurut saya itu semakin menutup peluang kemungkinanan manusia-manusia berkualitas. karena sudah yakin dengan karakter peserta sidang yang saya lihat pasti menolak, saya langsung ganti mengusulkan bagaimana jika S1 saja. Dengan argument ada kemungkian kita merusak keidealan calon pemimpin kita sendiri dengan pembatasan akademis yang menurut saya aneh ini)

4. Abis itu saya lupa……

Itulah anehnya, kita yang ada di pembahasan Pilkada Bandung ini kan akan mengampanyekan calon pemimpin ideal yang telah kita sepakati ini, tapi menurut saya, dengan memberikan batas akademis, kita tidak mengkampanyekan pencalonan yang ideal. Seharusnya mahasiswa dapat memberikan contoh sesuatu yang tidak melanggar HAM, supaya ,masyarakat dapat belajar untuk mengenal hukum yang berdasarkan HAM. Dengan memberikanpembatasan ini, dengan alas an kita juga bisa dapat mengkampanyekan tentang pentingnya pendidikan (sepertinya tidak perlu begini juga caranya mengkampanyekan pentingnya pendidikan, ada banyak cara dong… ini malah seperti mengkampanyekan ‘lupakan saja HAM, kita cari pemimpin berkualitas sesuai dengan akademisny’, yang menurut saya belum tentu bisa didapat dengan pembatasan akademis karena pemimpin itu tidak hanya berteori duduk di bangki kuliah. Pemimipin itu kerja praktek, melatih sensibilitas, kemampuan menyelesaikan masalah, menghaddapi masyarakat, dan semua itu dapat dilatih dengan berorgnisasi. )

Sepertinya kita inilah yang membuat masyarakat mencari pemimpin yang tidak ideal dengan cara yang tidak ideal. Membuat masyarakat melihat sebelahmata dengan melihat mana calonnya yang berpendidikan tinggi saja. Bukan programnya. Membuat masyarakat lupa tentang pentingnya HAM yang seharusnya dapat kita, mahasisw, contohkan karena mahasiswa biasanya mendapatkan informasi terntang apapun lebih mudah.

PELACUR-PELACUR POLITIK

Gw lagi baca buku dari seorang yang  menyenangkan  dan ternyata sangat mengenal dan menerima gw. Seorang yang melihat DIFA sebagai DIFA dan DIVA sebagai DIVA, Andaikan ya Ndra.....

Sebuah buku karya Paul I. Wellman, "The Female".
Tentang seorang pelacur yang bangkit dari keaiban dunia mesum untuk meraih kemulian sebagai MAHARANI yang memerintah seluruh dunia ROMAWI pada abad ke 6...


Theodora...
Penjelmaan seluruh pesona dan kelicikan perempuan yang kebutuhannya tak bisa dipenuhi oleh adam manapun. Makhluk indah yang mengalir tanggung jawab seks yang penuh rahasia mengerikan. pribadi yang sangat subjektif dalam pikiran dan perasaan, sadar akan kelemahan, tak tergoyah dalam keputusannya, tak berkasih dalam realismenya. Perempuan yang kenal tujuan dengan keambisiusan yang cerdas dan menggoda, melihat semua pelajaran dengan mata tajam yang membius politikus konstantinopel sehingga mereka bak anjing sang maharani dari jalan hawa -sarang pelacuran yang paling terkenal dan terbusuk di dunia- sampai akhirnya menaklukkan suatu bangsa, ROMAWI...   

Kecerdasan yang hanya bisa didapatkan oleh seorang pelacur yang terbiasa menyeleksi 'permainannya' yang tidak munafik seperti gadis-gadis bangsawan yang polos dan hanya tau bahwa hidupnya untuk menyenangkan sang suami yang harus dia agungkan, bukan untuk menyenangkan hidup mereka sendiri. Mereka tidak ditiduri, tapi meniduri pria-pria itu dalam buaian mereka. Pelacur- pelacur politik yang meniduri tiap kekuasaan dan rahasia-rahasia mahal yang hanya diketahui oleh segelintir saja orang-orang terpilih.


 

Inspired huh?
pelacur-pelacur politik inilah pemegang kekuasaan sebenarnya. Dan pelacur yang tertulis tidak hanya dapat diartikan dalam maksud yang sebenarnya.
Mungkin, kita semua adalah pelacur-pelacur demokrasi....
Mungkin, kita semua adalah pelacur-pelacur hukum....
Mungkin, kita semua adalah pelacur-pelacur sejarah....
Bukan hanya sampah ranjang saja....

mengAKU

        Menurut KTP, subjek aku yang akan dideskripsikan di sini bernama Difa Kusumadiani, berjenis kelamin perempuan, belum menikah, lahir pada tanggal 22 september 1987 di daerah Bekasi, bertempat tinggal di bla bla bla, bergolongan darah AB, dan seterusnya. Selain itu “Aku” juga dideskripsikan sebagai anak pertama dari 6 bersaudara, dari orang tua yang melahirkan, membesarkan, dan memberikan pelajaran terbesar, pelajaran untuk bertanya. Menpunyai  genetik seperti bla bla bla yang membentuk ”Aku” dan dapat dikatakan sebagai homo sapiens. Yang dituntut untuk bisa mendefinisikan “Aku” dari genetiknya. Yang mempunyi sejarah dalam lama hidupnya, yang melihat sejarah di sekitarnya dan membentuk ke”Aku”annya.

 

 Seorang “Aku” adalah manusia yang juga dapat menilai dirinya. “Aku” menilai dirinya sebagai orang yang ambisius, keras kepala, narsisist, keibuan, dan segala sifat yang ada pada diri “Aku” yang akan terlalu banyak dan membuat essai ini semakin kehilangan inti. Itulah nilai yang diberikan “Aku” pada dirinya. Mungkin saja berbeda dari penilaian dari orang lain. Mungkin saja penilaian itu dibentuk dari orang lain.

 

 Namun, bisakah seorang “Aku” mendefinisikan dirinya? Yang seorang “Aku” lihat dari tulisannya dia atas hanyalah deskripsi, hanya penilaian, baik didasari oleh fisik atau pemikiran ke”Aku”an dari “Aku”, itupun bisa didasari oleh ketahuan dan ketidaktahuan dari “Aku” yang lain. Bukan definisi dari ke”Aku”annya. Pertanyaan mendasar yang sering ditanyakan atau ditidakpedulikan oleh “Aku” lainnya. Pertanyaan terdalam bagi “Aku” yang ingin tahu ke”Aku”annya seperti “Aku”.

 

 Aku hanyalah meng”Aku” dan terus men”Aku” sampai “Aku” berhenti untuk meng”Aku”. “Aku” menjadi “Aku” ketika nafas, pikiran, detak, sel-selnya tidak meng”Aku” lagi. Ketika nafas ini berhenti selamanya, ketika seorang “Aku” tidak ada lagi, tidak apa formula genetik bernama “Aku” lagi yang hidup. Seumur hidupku, “Aku” tidak pernah menjadi “Aku”. Karena aku adalah “Aku” setelah mati ragaku. Setelah raga tidak lagi membatasi ke”Aku”anku

 

 Jika “Aku” terdiri dari air, tanah, udara, logam, dan apapun itu, semoga “Aku” nanti adalah semua itu. Jika aku berada di kiri, kanan, depan, belakang, tengah, atas, bawah , semoga “Aku” nanti adalah semua itu. Jika aku dikenal ataupun menilai diri sebagai orang yang ambisius, narsisist, kapitalis, Marxis, idealis, koleris, taktis, pragmatis, theis, bahkan atheis, atau sifat-sifat lain yang aku tidak tahu definisinya, semoga “Aku” nanti adalah semua itu. Nilailah aku dari pemikiranku, jangan dari fisikku yang membatasi ke”Aku”anku, definisikan aku dalam pikiranmu, namun aku akan terus meng “Aku”. Karena “Aku” berharap menjadi “Kamu”, “Kalian” , “Mereka”, “Kita”, menjadi “Aku” yang berhenti meng”aku”. Ketika tidak dapat lagi meng”Aku”.

 

  Aku ingin lebih meng”Aku” lebih kuat, lebih bebas, dan lebih jelas lagi. Pikiranku tantang ke”Aku”an ini terlalu terhambat oleh kata, suara waktu, dan ruang sedang dijalani dalam ke”Aku”an. Aku ingin ke”Aku”an ini tidak hanya untukku, tapi juga untuk “Aku” yang lain yang juga akan menjadi “Aku”, “Kamu”. “Dia”, “Kami”, “Mereka”, “Kita”. Seperti “Aku” ketika berhenti meng”Aku”.

Ayah,Kartini akan menjadi apa?

“Ayah, Kartini kelak akan jadi apa yah?” tanya Kartini sepulangnya dari sekolah.

 Orang tua itu terkejut dengan pertanyaan putrinya. Ia tidak menjawab. Memang ia tidak mau menjawabnya. Anak yang dicintainya itu tentu tidak akan mengerti. Jawabnya hanya sebuah senyuman,sementara tangannya terus mengusap-usap kepala anaknya. Kartini bertanya lagi, dan ayahnya hanya bisa tersenyum mendengar puri kecilnya menanyakan hal itu

 Jika seorang Kartini tidak pernah sekalipun dalam benaknya menanyakan hal itu, Ia mungkin hanya akan menjadi Raden Ayu. Hanya menjadi istri seorang bangsawan seperti ibu-ibunya. Menjadi seorang raden ayu yang anggun, dengan langkah hampir tidak bersuara dan suara yang hampir tidak terdengar jika berbicara. Siapapun dapat menjadi aden ayu, tapi siapapun belum tentu bisa menjadi seorang Kartini yang kritis dalam kerangkeng adat yang juga sangat dia cintai.

 Kartini lahir ketika marak pencabutan tanam paksa. Ayahnya adalah R. M. A. Sosroningrat, seorang bupati jepara dan ibunya bernama Ngasirah, anak dari mandor pabrik gula mojang.  Ayah Kartini adalah bangsawan yang mendapat pendidikan Barat. Karena kakek Kartini , Pangeran Ario Tjondronegoro dari Demak, adalah bupati pertama di Jawa tengah yang memberikan putra-putranya didikan barat agar putra-putranya agar mendapatkan kemajuan dalam pendidikan. Ayah Kartini pun mengikuti jejak ayahnya dengan memberikan putra-putrinya pendidikan.

 “Tidak, ayah tidak jahat,” kata Kartini kepada adiknya. “Ayah baik. Ayah sudah menyekolahkan kita. Padahal jarang anak perempuan ke sekolah jaman sekarang. Ayah baik. Betul-betul baik. Hanya adat yang kurang baik. Adatlah yang memaksa saya berhenti sekolah.” 

Pendidikan resminya hanya sebentar. Ia dipingit ketika berusian 12 tahun. Namun karena pingitan yang dialami gadis bangsawan ketika beranjak dewasa seperti yang dialaminya, pelajaran yang didapatkan semakin matang. Ia semakin kritis dan memikirkan nasib kaumnya yang lain, kaum perempuan. Selama 4 tahun ia dipingit, ditemani surat-surat dari temen-temannya yang kemudian dibukukan dan berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan buku-buku kiriman guru dan teman-temannya . Ia Tidak diperbolehkan untuk melewati tembok gedung keasistenwedanaan, rumahnya sendiri karena memang itulah adat jawa yang diberikan kepada bangsawan perempuan.

Ketika berusia 16 tahun, pingitannya telah selesai. Hari masih pagi kala itu, dan di pagi itulah untuk pertama kali Kartini melihat dunia luar. Pada hari itu mereka menghadiri pentahbisan gereja baru.Dan mungkin Karena kunjungan itulah Kartini juga sangat menghormati kaum Nasani. Sebenarnya pembebasan itu belum bersifat resmi, sekalipun orangtuanya sudah menolak kebiasaan memingit. Mereka masih di tahan di rumah dan lambat laun lebih sering akhirnya mereka bepergian.

Tidak lama dari pembebasan pingitan Kartini, Ia diperkenalkan kepada Tuan dan Nyonya Ovink. Kedua orang belanda ini sangat heran mendengar seorang perempuan jawa berbicara bahasa jawa dengan lancer. Sementara ayahnya berbicara dengan Tuan Asisten Residen Ovink, Nyonya ovink mengajukan pertanyaan pada Kartini dan kedua adiknya. Baru pertama kali ia mempergunakan bahasnya dengan perempuan pribumi. Karena kelancaran bicara dan kecedasan Kartini, ia sering diundang untuk bercakap-cakap di rumah keluarga Ovink.

“Mereka semua tidak bersekolah ,Nyonya . Alangkah baik jika dibuka sewaktu waktu dibuka sekolah untuk mereka.” Seraya Kartini menunjuk ke arah beberapa perempuan yang berdiri di pinggir jalan.

“Bukankah mereka semua berbahagia? Lihat saja bagaimana mereka tertawa.” Nyonya itu mencoba menjawab.

“Berbahagia? Saya banyak sekali mendengar tentang kehidupan mereka. Menyedihkan sekali. Karena mereka tidak disekolahkan. Jika mereka diberi kesempatan untuk bersekolah, keadaan tentu lain.” Jawab Kartini menanggapi.

Hal kritis seperti itu pun penah juga diungkapkan Kartini ketika mlihat kerajinan jepara bersama nyonya Ovink. “ Lihatlah perempuan-perempuan itu Nyonya, mereka buta huruf dan kurang gizi. Padahal kerajinan yang dibuat oleh putra-putra dan suami mereka sangat indah. Saying sekali bukan?”

Nyonya Oving pun memperhatikan perempuan-perempuan yang memakai kutang kusam dan kulit hitam legam kasar, perempuan-perempuan yang sedang meneteki anaknya sembari menyembah. Iapun menceritakan apa yang Kartini katakana kepada suaminya. “Bangsa ini akan segera mempunyai pahlawan perempuan, semoga ia dikaruniai hidup panjang.” Kata Tuan Ovink sembari tersenyum.

Sungguh seorang Raden Ajeng yang kritis dan memerhatikan lingkungan sekitar. walau baru saja menapaki dunia di luar tembok keasistenwidenaan. Kritis dan peduli pada perempuan di daerahnya yang dikekang adat. Perempuan-perempuan jawa yang  tidak diperbolehkan untuk cerdas, menahan kelakuannya agar terlihat pendiam.

Mengapa perempuan terus yang diperhatikan Kartini? Mengapa ia tidak terlalu konsen akan nasib laki-laki di daerahnya? Karena perempuan jawa adalah kelas dua dalam keluarga. Anggota keluarga yang berjenis kelamin laki-laki harus makan kenyang terlebih dahulu baru perempuannya. Anak laki-laki bengsawan disekolahkan, sedang anak perempuannya di rumah saja. Hanya beberapa perempuan bangsawan seperti Raden Ayu di keluarga Kartini saja yang berkesempatan mengikuti pelajaran di sekolah walaupun pada usia 12 tahun mereka harus dipingit.

Kartini berpikir jika perempuan mendapat pendidikan, maka setiap keluarga akan lebih terjaga kesehatannya. Karena perempuanlah yang mengatur kesehatan keluarga, yang mengurus anak, yang memasak, da mengurus rumah. Jika keluarga sehat, maka keluarga akan lebih sejahtera. Ini menarik, Kartini adalah Keluarga bangsawan, seorang perempuan, yang juga dibebani adat, perempuan di zamannya yang berpikir kritis, peduli, memikirkan sekitar, dan terus mencoba untuk memajukan kaumnya yang terbelakang, yang juga mengurangi kesulitan tiap keluarga di daerahnya.

Tidak hanya sebatas kata dan surat saja yang ia persembahkan untuk kaumnya, tapi juga sekolah perempuan yang awalnya sederhana hingga menjadi besar dan banyak perempuan yang mengikutinya. Dari perempuan abdi keasistenwidenaan dengan sekolah berbetuk pendopo di belakang keasistenwidenaan hingga gedung yang diberikan pemerintah Hindia Belanda.

Sebuah persembahan yang diberikan oleh Kartini untuk kaumnya, bahwa perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan. Hal besar yang berawal dari pertanyaan Kartini ketika kecil, “Yah, Kartini akan menjadi apa?” Yang mungkin dapat kita jawab sekarang, “ Ibu, Kau sudah menjadi contoh yang besar bagiku. Kau telah menjadi guru yang mengajarkan bahwa kami,perempuan, berhak belajar, bahwa kami berhak mewudkan apa yang kami cita-citakan , bahwa kami juga berhak menjadi pahlawan sepertimu, walau nama kami bukan Kartini. Walau kami bukan Perempuan yang mempunyai nama Raden Ayu sepertimu.”

 

BAGAIMANA PELAJAR INDONESIA SEHARUSNYA BERSIKAP

Ada hal yang ingin saya tanyakan, bagaimana kita mulai menyelesaikan masalah yang ada ini? Siapakah yang seharusnya memulai gerakan untuk melakukan perbaikan ini?

 Setiap orang dalam bangsa ini mempunya tugasya masing-masing dalam menyelesaikan masalah yang ada. Setiap anak kecil, mempunyai tugas untuk belajar, setiap pendidik, mempunyai tugas untuk mendidik, setiap orangtua mempunyai tugas dalam membentuk karaker dan membuka pikiran setiap calon pemimpin yang diasuhnya.

Begitu juga pelajar, yang sejak dulu telah kita ketahui berperan besar dalam pembentukan bangsa Indonesia. Saya kira bukan hanya belajar pelajaran akademis saja yang yang menjadi tugas utama seorang pelajar. Sebagai orang yang dapat dikatakan terididik, kita seharusnya juga bertanggung jawab dalam memikirkan langkah menyelesaikan masalah Negara ini. Bukan hanya pelajar dapat dikatakan sebagai calon pemimpin di masa mendatang, tapi juga agar pelajar tidak kehilangan tujuan belajar yang seharusnya telah ditanamkan sejak kecil. Bukan hanya untuk bertahan hidup, aktifitas pendidikan seharusnya bertujuan untuk pembangunan bangsa. 

Mahasiswa, sebagai pelajar yang sudah dapat dikatakan dewasa, seharusnya sudah mengerti dan tahu peranan masing-masing dalam pembangunan bangsa. Yang ingin menjadi teknokrat misalnya, persiapkan diri untuk membangun teknologi bangsa, yang menjadi seorang economist, persiapkan diri untuk mengatur keuangan Negara. Yang ingin menjadi pegawai, tidak salah menjadi pegawai cukup belajar yang rajin saja, karena ada orang yang akan mengatur seorang pegawai dan pegawai pun mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun prekonomian banga.

 Mahasiswa yang mempunyai tujuan membangun bangsa, akan sangat kurang jiga tgasnya adalah belajar pelajaran akademis saja. Mahasiswa harus membuka matanya akan apa yang terjadi, apa permasalahan, apa akar permasalahan, apa yang seharusnya dilakukan, apa goal yang harusnya dicapai. Hal-hal seperti itu akan sangat kurang jika hanya belajar di kelas saja. Mahasiswa seharusnya turun langsung dalam mengawal pembangunan bangsa. Dan akan lebih baik, jika mahasiswa mempunyai langkah taktis yang dapat dilakukan oleh kaumnya. 

 Ada beberapa hal yang saya kira dapat dilakukan mahasiswa untuk mengawal dan membentu pembangunan bangsa. Selain melakukan pengajian  bagaimana langkah penyelesain masalah dan tidak buta politik ,karena sangat jelas pembangunan bangsa tidak lepas dalam masalah politik juga, mahasiswa juga dapat melakukan langkah taktis. Seperti melakukan penelitian tentang energi agar masalah tidak tercukupinya energi tidak ada lagi dalam bangsa ini di masa mendatang, atau bahkan mengusahakan agar setiap peneliti muda Indonesia, terutama mahasiswa, dapat melakukan penelitiannya. Dapat juga Terjun dan berktifitas di lapangan seperti demonstrasi, setelah melakukan pengajian akan penyelesain masalah tentunya. Atau juga bekerja sama dengan LSM untuk memajukan pendidikan dengan menjadi guru relawan atau menanggulangi masalah lingkungan. Mengurangi pengangguran dengan menjadi pengusaha dan membuat lahan pekerjaan, memajukan pertanian dengan survey ke lapangan , penelitian dan melakukan penyuluhan, dan banyak hal lain yang dapat kita lakukan.

 Hal_hal seperti itu tidak hanya membantu Negara, tetapi juga menjadi bahan simulasi yang baik ketika kita telah menyelesaikan pendidikan dan bertangung jawab dalam mengatur bangsa ini menjadi tugas utama kita. Semakin baik jika mahasiswa tidak hanya belajar simulasi lapangan, tetapi juga belajar simulasi pemerintahan dengan berorganisasi. Karana semua hal akan berkaitan dengan organisasi jika ingin terorganisir dengan baik dan matang.

 Dengan berorganisasi, mahasiswa akan semakin matang dalam hal karakter ataupun menentukan peran dalam pembangunan sesuai kemampuan dan kelebihannya. Dengan berorganisasi, mahasiswa dapat mempunyai jaringan yang luas agar infomasi dan langkah kedepan yang diambil ke depan akan semakin mudah. Dengan berorganisasi juga, kita dapat mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang permasalahan politik yang ada. Kita juga belajar tentang simulasi perpolitikan, karena pembangunan jelas tidak luput dalam masalah politik. 

PERSOALAN YANG DIALAMI BANGSA INDONESIA

Persoalan bangsa saat ini saya nilai cukup banyak. Dari masalah ketahanan pangan, penanganan bencana yang seharusnya ditangani dengan tepat dan cepat,  pengangguran akibat kurangnya lahan pekerjaan dan kualitas manusianya, pendidikan yang seharusnya menjadi dasar dalam pembangunan bangsa namun tidak terorganisir dengan baik, penanganan transportasi yang baru disadari ternyata banyak masalah setelah terjadinya kecelakaan beruntun baik darat, laut dan udara yang terjadi belakangan ini. Ada juga masalah korupsi yang sudah tidak lagi asing di dengar, krisis kepemimpinan yang saya nilai sebagai salah satu akar permasalahan ditambah bertambahnya terus penduduk yang menyebabkan negarasemakin sulit mengurus rakyatnya.

Dengan adanya globalisasi, Indonesia dituntut untuk melakukan akselerasi dalam penangan berbagai masalah tersebut. Jelas sudah kita memerlukan koordinasi yang baik dalam menyelesaikan masalah dan mencari akar permasalahan yang ada. Apakah Negara memang tidak sanggup mengurus rakyat Indonesia yang tersebar dibatasi laut dengan beragam kebudayaan dan karakter? Apakah memang kita belum lagi menemukan pemimpin kuat, dengan segala kemampuannya dalam memanage Negara Indonesia? terlalu banyak yang diurus atau memang tidak bisa menguruskah akar permasalahannya?

Jika saya mengatakan bahwa kita terlalu banyak orang yang diurus sehingga pemeritah kewalahan, maka pemecahan masalah yang dapat diajukan adalah penurunan tingkat kelahiran dengan program KB, pendidikan di tempat-tempat terpencil sehingga orang semakin sadar akan masalah yang ada. Namun, ada pertanyaan lagi dalam benak saya “mengapa pemerintah Cina dapat Mengurus rakyatnya dengan baik dan cepat menangani masalah negaranya dengan cepat?” Cina juga Negara dengan penduduk yang banyak, bahkan lebih banyak dari Indonesia. Hal tersebut saya lihat karena pemerintah cina saya nilai sangat kuat, tidak hanya itu, hukum yang berlaku juga sangat tegas mengikat. Cina mempunyai pemimpin yang disegani oleh rakyatnya, sedangkan kepemimpinan pemimpin kita kerap kali dipertanyakan.

Menurut saya, kedua-duanya adalah akar permasalahan yang harus diselesaikan jika kita berbicara tentang akselerasi penyelesian masalah. Cina, hampir saya bilang telah stabil dan sudah menyelesaikan akar masalahnya. Sedangkan kita, mempunyai masalah baru setiap waktu. Wajar jika tidak hanya masalah krisis kepemimpinan saja yang kita perhatikan, tetapi masalah banyaknya orang yang dapat Negara kita ururs dalam waktu cepat untuk mengahasilkan sumber daya manusia yang berkualitas juga tidak bisa tidak kita perhatikan.

2006 Gak Kemana2

Sebenarnya saya heran sama mereka yang terus Menanyakan "Kemana 2006?" kalo saya mah malah mau nanya kemana "Kakak - kakak kami?". Kemana kakak-kakak kami yang katanya akan mendampingi kami saat kami baru belajar berjalan di dunia ,yang katanya juga, kami baru kenal.

Ada beberapa orang , yang sayangnya gw kenal, malah mendriskriminasikan teman-teman 2006 yang tidak ikut OSKM. Apakah teman-teman yang sayangnya saya kenal ini tahu, ada 2006 yang hampir mingat karena gak boleh OSKM, dilarang oleh orangtua yang lebih berpihak pada rektorat yang dikarenakan pada saat pertemuan, kakak-kakak kami tidak ada ? (saya juga ndak ikut OSKM loh, saya malah "diculik" teman-teman yang katanya swasta, diskusi ala warung kopi di gelap nyanwang)

Sebagian dari kami siap di OS FAk. Kami menunggu, tapi tidak kunjung datang juga. Ada yang mengisi waktu dengan main dota yang beberapa orang berpikir itu adalah aktifitas "haram"(well, it`s just a joke), ada yang aktif di KM, UKM, belajar, tidur,adalh acara mengisi waktu kosong lainnya.

Salah jika 2006 mengisi waktu yang sebenarnya pernah  direncanakan untuk diluangkan untuk acara yang pernah kita prediksikan ada sebelumnya? Lalu, kenapa jika acaranya tak kunjung datang malah teman-teman 2006 yang disalahkan? Bukankah 2006 juga salah satu korban? Korban dari masalh OSKM, dan kami terjepit diantaranya.Korban dari masalah USM 1, 2 dan SPMB ,saya merasa ini aneh, tidak adil malah, jika teman-teman USM 2 dan SPMB belum dijuruskan, sedangkan teman-teman USM 1 sudah (mohon maaf, tidak ada maksud untuk menyinggung teman-teman USM 1, wong saya juga USM 1 kok).

Banyak juga dari kami yang aktif di kegiatan kemahasiswaan, ikut seminar, yang mungkin kalau kami bisa bertemu dan "bermain" dengan kakak-kakak kami, kami akn tahu lebih banyak informasi, lebih banyak jaringan daripada yang sudah kami lakukan sekarang.

Intinya, KAMI MASIH ADA, HANYA MENUNGGU DAN MENGISI WAKTU...!!!

ps: kalo mau komentar sok ajah, saya masih anak-anak yang baru belajar nulis juga katanya

menjadi seorang "mehe"

Wakakak.... malam ini adalah malam ter"mehe" dalam hidup gw. jam 12 an gw masih ada di PSIK bersama teman gw yang mehe dan beberapa menit yang lalu ada teman gw juga yang pernah "mehe" karena pernah diputusin dan sekarang sedang tenggelam dengan thesis nya. (PENGKHIANAT LO..!!!)

Teman gw yang satu itu sedang bermasalah dengan perempuan(welll.... cerita ini sebenrnya akan lebi menarik kalo dia "mehe" karena laki2) yang sedang memilih laki2 lain di minggu ini. Btw dude.... lo kan dah dapet jatah minggu lalu...

Dan gw.... karena inspirasi dari seorang teman yang membuat kamar gw jadi setengah kapal pecah, berusaha untuk menerima "kutukan" (ok.... u right thesis man... ) dan membersihkan harapan yang pernah ada. Harapan untuk melupakan, harapan untuk menutup segala kemungkinan, harapan untuk merasa bahwa gw dapat mengontrol semua dengan alasan "masa depan", logika, cita2, yang sebenarnya bisa gw rubah jalannya....

Kutukan.... untuk merasakan perasaan yang memang seharusnya tidak ada karena kita tidak dapat meraba dimensi pararel yang mungkin nyata atau tidak ada. Kutukan untuk merasakan penuyesalan. Terlalu berlebihan huh....?? I think so. but.... have u ever feel this feeling ?

Thanks..... untuk semua waktu yang telah mejadi memory, untuk semua cinta yang pernah mengisi, dan harapan yang selalu menjadi mimpi.....
Sorry, karena telah jadi seorang munafik yang mengatakan hal2 yang ideal sebagai alasan, jarak, perbedaan, dan hal yang sebenarnya bisa diselesaikan....

Hari ini ada cerita yang akhirnya tidak dibuat menggantung.... cerita yang telah usai......
Good Bye......

Dan gw tetap bersama teman "mehe" gw yang udah  bosan mutar lagu super "mehe"
menikmati ke"mehe"an kita walau sadar besok ada UAS... wakakakak.... Ayo kita ber"mehe" gila sampe pagi..... Gak ada lagi jaga "image" di sini, gak ada lagi yang munafik sok berpikir "everythink is ok" or "I`m fine always".....







Menikmati hujan... ternyata cukup menyenangkan. Tidak perduli dengan basah dan sakit yang belum tentu menyerang. Hei... bau tanahnya cukup enak, becek2 kan tidak terlalu menyebalkan. Dingin..?? kata siapa aku tidak cukup kuat menahannya? bukankah aku cukup kuat mengangkat situasi yang belum pernah terangkat?
Aku cukup kuat untuk menikmati hujan. Tidak perlu cemas kawan, walaupun sudah beberapa kali aku pingsan. Tubuh ini tubuhku, aku yang paling tau itu. Tidak hanya tubuhku. terkadang jalan pikiranmu pun aku lebih tau..
tidak anya hujan yang ingin aku nikmati. Gunungpun juga.
Aku tidak bermaksud menaklukannya, hanya ingin menikmati gunung yang
hanya kucintai dari gambar saja. bisakah aku..?
Bisa... aku bisa. beribu orang yang tidak percaya, aku tidak perduli.aku yang paling tahu tentang tubuhku. Aku ingin menikmati hujan di gunung.. menikmati matahari, bau tanahnya... Karena aku mencintainya walaupun belum pernah kurasa.

Aku bisa... bukankah nanti aku akan mendaki puncak tertinggi dunia yang sulit didaki seorang wanita....?

My Photo
Powered by Friendster Blogs